Posted by : fahmi haqqi 12 Mei 2015


Lanjutan dari postingan kemarin
Diversifikasi minyak dengan CNG Sumber gambar

Meraih kedaulatan  dengan diversifikasi
Ketahanan  adalah terpenuhinya ketersediaan (availability), kemampuan untuk membeli (affordability), dan adanya akses (accessibility), serta ramah lingkungan (environment friendly) bagi masyarakat pengguna. Kemandirian  adalah kemampuan negara dan bangsa untuk memanfaatkan keaneka ragaman  dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi dan kearifan lokal secara bermartabat. Kedaulatan  adalah hak negara dan bangsa untuk secara mandiri menentukan kebijakan pengelolaan  untuk mencapai ketahanan dan kemandirian . Salah satu langkah yang dapat digunakan untuk mencapai ketahanan  adalah dengan langkah diversifikasi. Karena masyarakat kita hingga saat ini masih sangat bergantung pada BBM hal ini sangat berbahaya mengingat Cadangan minyak di indonesia terdiri dari cadangan yang sudah dikembangkan dengan cadangan yang belum dikembangkan) adalah sebesar 3,59 miliar barel. Angka ini sepintas tidak berarti apa-apa bagi orang awam selain sejumlah angka yang relatif besar. Akan tetapi, kita mungkin akan terkejut jika mengetahui cadangan ini diprediksi akan habis dalam 11 tahun ke depan. Proyeksi ini dihitung dengan menggunakan asumsi tingkat produksi sebesar 900 ribu barel per hari (Asumsi RAPBN 2013) dan tidak ditemukan cadangan baru. Data cadangan minyak Indonesia sebesar 3,59 miliar barel ini berasal dari data resmi Satuan Kerja Khusus Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), yang kalau kita cermati lebih jauh menunjukkan cadangan minyak RI yang terus menurun. Pada awal 2012, cadangan minyak Indonesia berada di level 3,74 miliar barel, namun di awal tahun 2013 turun 150,39 juta barel menjadi 3,59 miliar barel. Sederhananya produksi minyak tahunan yang lebih besar dibanding penemuan cadangan minyak baru menyebabkan berkurangnya cadangan. Hal ini dapat dilihat dari data penemuan cadangan minyak baru sepanjang 2012 mencapai 164,28 juta barel, sementara jumlah minyak yang diproduksikan sebesar 329,9 juta barel. Asumsi RAPBN 2013 dan data SKK Migas di atas sesuai dengan data yang diperoleh dari laporan BP Oil yang berjudul “BP Statistical Review of World  June 2013“ 11 tahun adalah waktu yang relative terlalu singkat untuk bisa disikapi dengan santai. Maka sudah seharusnya program diversifikasi  ini segera dimulai apalagi dengan harga BBM yang terus berubah naik-turun hingga mendekati dengan harga keekonomian dari sumber  lain, yang lebih memberikan keuntungan yaitu kesehatan lingkungan, terjamin stabilitas pembangunan, dan dapat menjamin pasokan . Ada hal yang mampu mempercepat proses diversifikasi di indonesia antara lain:
Pertama membuat target besaran dan waktu yang lebih cepat untuk mewujudkan  diversifikasi  di indonesia. Blueprint PEN memasang target pada tahun 2025 dimana dengan scenario optimal minyak bumi akan turun menjadi 26,2%, gas alam 30,6%, batubara 32,7% dan sisanya PLTA, panas bumi dan lainya. Gagasan ini terasa sangat lamban karena kita butuh 10 tahun sementara cadangan minyak kita akan habis dalam waktu 11 tahun, proses ini terbilang lambat jika kita bandingkan dengan negara Malaysia dalam rentang rentang waktu 5 tahun sejak tahun 2000 yang mana telah berhasil menurunkan secara drastis minyak bumi dari 53,1% menjadi hanya 6% sementara gas bumi naik 37,1% menjadi 71%, batu bara PLTA naik dari 4,4% dan 5,4% menjadi 10% dan 11,9%

Kedua memberikan insentif dan regulasi yang mendukung perubahan sumber  BBM. Mengubah satu bentuk sumber  menjadi bentuk  lain memang membutuhkan biaya untuk alat converter. Regulasi pada bidang lainnya seperti produksi kendaraan bermotor di indonesia juga perlu dilakukan missalnya 25% dari  produksi motor harus menggunakan kendaraan harus non-BBM atau seluruh kendaraan umum menggunakan BBG. Yang perlu dilakukan adalah pembatasan ekspor sumber  mentah ke luar negeri ketika kebutuhan  belum terpenuhui

Ketiga penguasaan dan optimalisasi teknologi yang mendukung pengunaan  non-BBM serta membuat prioritas  terbaharukan yang menjadi andalan di indonesia mengingat indonesia sangat kaya akan sumber  alternatif seperti (gas alam, batu bara,  gelombang,  pasang surut, dll). Inovasi teknologi merupakan fundamen penting dalam dalam proses transformasi , termasuk diversifikasi . Beberapa negara yang berhasil melepaskan ketergantungan dari BBM seperti perancis yang berhasil menjadikan nuklir sebagai sumber  utama, kanda yang berhaasil mengembangkan hydro , atau rusia yang menggunakan gas alam keberhasilannya dikarenakan dalam penguasaan gas non BBM tersebut. Seharusnya bangsa ini belajar dari sejarah keterlambatan penguasaan penguaaan teknologi eksplorasi yang menyebabkan penguasaan lading minyak oleh perusahaan asing. Seharusnya negara mulai sekarang menyimpan  alternative non minyak karena diprediksikan puncak produksi minyak dunia akan terjaddi pada tahun 2025 jika negara tersebut tidak ingin terguncang ekonomi secara besar-besaran karena negara tersebut masih memiliki ketergantungan terhadap minyak.

Kemepat desentralisasi pengelolaan . Karena pada dasarnya setiap daerah di indonesia memiliki kondisi alam yang berbeda yang berarti kebutuhan  untuk wilayah tersebut berbeda-beeeda sehingga dengan desentralisasi setiap daerah akan menemukan sumber nergi yang optiml untuk di terapkan di daaerah tersebut. dengan desentralisasi maka ada 2 keuntungan yang didapat yaitu menjamin tidak terganggunya system  akibat adanya kerusakan system  ditempat lain, dan yang kedua dapat menurunkan harga, karena progam desentralisasi dapat menekan biaya produksi yaitu biaya pengiriman akibat pemusatan kegiatan pengelolaan . Apalagi bentuk geografis indonesia yang terdiri dari banyak pulau, desentralisasi  akan mempercepat pengadaan  di daerah-daerah terpencil sehingga mampu menggerakan roda perekonomian daerah tersebut.

Diversifikasi Menggunakan Gas Alam
Gas alam adalah  dari fosil nomor tiga yang paling banyak digunakan di dunia stelah minyak bumi dan batu bara. Seperti produk fosil lainnya gas alam dibakar untuk menghasilkan panas kemudian dikonversi dalam bentuk , namun gas alam mememiliki keuntungan yaitu lebih ramah lingkungam. Pada mulanya gas alam dianggap tidak bernilai ekonomis dan sering kali dibakar atau dibuang karena sulit untuk diproses atau ditransportasikan karena pada saat itu hanya ada satu cara untuk mentransportasikan gas yaitu dengan menggunakan jalur pipa yang mana membutuhkan biaya yang sangat banyak. Lalu pada tahun 1969 jepang mengimpor LNG dari Alaska menggunakan kapal, dan sejak itulah pengiriman gas dengan teknologi menggunakan kapal berkembang pesat dan membuat gas alam memiliki nilai ekonomis yang sama dengan minyak bumi,

Seperti diketahui indonesia adalah penghasil gas alam terbesar kedua di dunia namun ironinya pemerintah belum menjadikan gas sebagai bahan bakar utama menggantikan BBM. Padahal, menurut banyak pakar, cadangan gas di perut bumi Indonesia cukup melimpah, bahkan cukup untuk 90 tahun ke depan. Bandingkan dengan cadangan terbukti (proven) minyak bumi yang hanya 3,9 miliar barel, yang hanya cukup untuk 11 tahun. Masih terdapat beberapa ironi kebijakan di bidang gas, antara lain: Pertama, pemerintah lebih mengutamakan pasokan gas untuk kepentingan ekspor, bukan untuk kepentingan dalam negeri. Contoh, semua armada taksi di Malaysia dan Singapura menggunakan bahan bakar gas (BBG), yang sebagian gasnya disuplai dari Indonesia. Semua transportasi umum di Guangzhou, China, bahan
bakarnya menggunakan BBG,dan lagi-lagi gas yang digunakan adalah gas dari Indonesia (Kontrak Tangguh I). Sementara semua kendaraan bermotor di seantero negeri menggunakan BBM, yang harganya disubsidi dan diimpor pula. Ironi berikutnya adalah di saat cadangan gas melimpah, Indonesia tidak mengimbangi dengan pembangunan infrastruktur yang terintegrasi agar konsumen memiliki bargaining position untuk menentukan option of supply. Tanpa adanya infrastruktur yang terintegrasi, skema bisnis akan berbentuk point-to-point sehingga bargaining position supplier menjadi lebih tingggi dan menjadi
seller market. Yang dampaknya menjadi tingginya harga jual gas tersebut di konsumen Data FIPGB menamunjukkan bahwa pada 2012 total gas yang dibutuhkan industri adalah 2.873,47 “million metric standard cubic feet per day” (mmscfd), sedangkan pada 2013 meningkat 3 persen menjadi 2.958,58 mmscfd dan pada 2014 bertambah 1,2 persen yaitu 2.995,58 mmscfd. PGN sebagai satu-satunya perusahaan gas milik negara hanya mampu mengelola sekitar 800 mmscfd. “Kalau saat ini industri meminta pasokan gas hingga lebih dari 2.000 mmscfd maka konsekwensinya belum dapat memenuhi kebutuhan industri karena baru dapat mengirimkan sekitar 845 mmscfd, maka solusinya adalah impor, tapi harganya juga tidak akan lebih murah dari 10 dolar dan sampai
ke Indonesia dapat mencapai 15-16 dolar. Gas sebagai  alternatif yang menjanjikan harus benar-benar diutamakan untuk kepentingan domestik dan mendorong ekspansi industri dan perekonomian nasional, keberlangsungan  nasional di masa depan, karena persoalan harga minyak tidak hanya sekedar
persoalan “demand” dan “supply” tetapi seringkali karena faktor politik internasional, kondisi psikologis musim dingin berkepanjangan, kepercayaan terhadap ekonomi dan juga dampak spekulasi. Dalam beberapa tahun terakhir target pencapaian lifting minyak selalu tidak mampu memenuhi target yang telah ditetapkan, sehingga penentuan target sebesar 900 ribu barel per hari pada APBN 2013
juga sangat dimungkinkan tidak akan mampu dicapai juga. Oleh karena itu, sebuah pesan kuat harus disampaikan: Pembangunan infrastruktur penyaluran gas domestik sangat-sangat penting, dan tidak bisa diserahkan begitu saja kepada mekanisme pasar, perlu ada kebijakan yang kuat serta perencanaan jangka panjang yang menyeluruh dari pemerintah. 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Cari Blog Ini

Popular Post

Chat Box






- Copyright © De Haqqi -Metrominimalist- Powered by Blogger - Modived by Fhi -